Sebelum pembahasan tentang kompetensi inti pertama yang diajarkan dalam training auditor energi, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tiga prinsip dalam konservasi energi. Ketiga prinsip yang mendasari tersebut adalah
- Pencegahan. Tujuannya adalah menghilangkan atau mengurangi energi yang terbuang percuma. Dapat dilakukan dengan melakukan pemeliharaan dan perbaikan peralatan secara berkala sesuai dengan yang disarankan oleh vendor, menjalankan peralatan sesuai dengan prosedur operasi yang telah ditentukan.
- Mengurangi rugi-rugi energi yang terjadi atau energi recovery. Rugi-rugi energi selalu terjadi pada semua peralatan, sesuai dengan hukum termodinamika. Konservasi energi dilakukan dengan cara memanfaatkan semaksimal mungkin energi yang terbuang selama peralatan digunakan. Misalnya dalam boiler, panas pembakaran yang masih ada di gas/ udara buang dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air umpan boiler. Secara teknis hal ini disebut ekonomiser.
- Memanfaatkan teknologi yang selalu berkembang misalnya lampu. Saat ini lampu hemat energi seperti lampu LED sudah banyak dijumpai di pasaran sebagai pengganti lampu pijar.
Audit energi didefinisikan sebagai proses evaluasi pemanfaatan energi dan identifikasi peluang penghematan energi serta rekomendasi peningkatan efisiensi pada pengguna energi dan pengguna sumber energi dalam rangka konservasi energi (PP 70/2009).
Sesuai dengan skkni auditor energi industri terdapat 4 kompetensi inti yang harus dimiliki oleh seorang auditor, yaitu persiapan, survei lapangan, analisis data dan pelaporan. Keempat kompetensi inti tersebut akan disampaikan dengan gamblang dalam training auditor energi, dan diuraikan secara singkat dalam artikel secara berseri.

Mau akses ecourse auditor energi ? Daftar di sini
Kompetensi 1 Training Auditor Energi, PERSIAPAN
Beberapa poin penting yang berkaitan dengan persiapan diantaranya adalah; menentukan objek dan jenis audit energi, menentukan metode dan menyiapkan peralatan yang diperlukan, menyusun tim auditor dan jadwal audit energi akan dilakukan, dan menyiapkan kelengkapan administrasi sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh organisasi objek audit energi.
Menentukan jenis audit energi.
Merujuk pada buku panduan teknis audit energi yang diterbitkan oleh Pusat Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kementrian Perindustrian, secara umum audit energi dibedakan menjadi 2 jenis : audit energi awal dan audit energi rinci.
Audit energi awal.
Bertujuan untuk memotret penggunaan energi pada suatu industri atau pabrik secara umum. Audit awal ini berguna untuk mengenali sumber-sumber pemborosan energi yang terjadi dan tindakan-tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi energi dalam jangka pendek.
Contoh yang dapat diidentifikasi dengan mudah ialah hilang atau cacatnya insulasi, kebocoran uap dan udara tekan, peralatan yang tidal dapat digunakan, kurangnya control yang tepat terhadap perbandingan udara dan bahan bakar dalam tungku pembakaran.
Dalam audit energi awal ini, seringkali perhitungan tidak dilakukan dengan rinci. Hasil akhir yang biasa diperoleh dari audit energi awal adalah seperangkat rekomendasi tentang tindakan tanpa biaya atau berbiaya rendah yang segera dapat dilaksanakan dan rekomendasi audit yang lebih ekstensif untuk menguji dengan lebih teliti terhadap area pabrik tertentu yang terpilih. Dalam manajemen energi disebut significant energi use.
Biasanya, audit energi awal atau survey awal dapat dilaksanakan dalam waktu satu atau dua hari untuk instalasi pabrik yang sederhana, namun untuk instalasi pabrik yang lebih komplek diperlukan waktu yang lebih lama. Audit energi awal terdiri dari dua bagian utama, yaitu:
- Survei manajemen energi. Surveyor (atau auditor energi) mencoba untuk memahami kegiatan manajemen yang sedang berlangsung dan kriteria putusan investasi yang mempengaruhi proyek konservasi.
- Survei energi (teknis). Bagian teknis dari audit energi awal secara singkat mengulas kondisi dan operasi peralatan dari pemakai energi yang penting (misalnya boiler dan sistem uap) serta instrumentasi yang berkaitan dengan efisiensi energi. Audit energi jenis ini akan dilakukan dengan menggunakan sesedikit mungkin peralatan. Auditor energi akan bertumpu pada pengalamannya dalam mengumpulkan data yang relevan dan mengadakan observasi yang tepat, sehingga memberikan diagnosa situasi energi pabrik secara cepat.
Audit energi rinci.
Dilakukan sebagai tindak lanjut dan sesuai rekomendasi audit energi awal. Audit Rinci dilakukan pada beberapa unit fasilitas pamanfaat energi yang di identifikasi pada Audit Awal atau informasi dari owner, mempunyai peluang penghematan energi besar tetapi memerlukan investasi cukup besar.
Biaya investasi dususun berdasarkan hasil perhitungan dan analisa basic engineering dan kemudian dilakukan analisis ekonomi. Berdasarkan hasil audit rinci tersebut disusun rekomendasi engineering.
Lebih detail mengenai perbedaan audit energi awal dan audit rinci akan lebih mudah dipahami pada saat training auditor energi berlangsung. Yaitu dengan praktek melakukan audit energi.
Menentukan metode audit energi yang sesuai.
Yang dimaksud dengan metode dalam audit energi adalah adalah metode pengumpulan dan evaluasi atau analisis data pada peralatan atau sistem, yang didasarkan pada :
- Jenis, spesifikasi, kondisi sistem/peralatan dan kondisi lingkungan
- Kelengkapan dan ketelitian peralatan ukur yang terpasang
- Data yang mungkin bisa diperoleh dalam waktu yang tersedia
- Jenis audit energi dan target audit energi yang ingin dicapai
Informasi awal yang cukup memadai pada saat survey awal akan sangat membantu seorang uditor energi dalam menentukan metode audit yang dipilih.
Data dibedakan menjadi dua macam,
- data primer, adalah semua data yang diperoleh atas upaya langsung dari auditor, seperti data hasil pengukuran, pengamatan, pemotretan dan wawancara
- data sekunder, adalah data yang diperoleh dari fihak audit yang berupa: hardware (fotocopy, booklet dan print DCS) dan software (flashdisk dan CD)
Dalam menganalisis data, parameter yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi adalah intensitas energi. Intensitas energi didefinisaikan sebagai perbandingan antara konsumsi energi (input) dengan produk yang dihasilkan (output), dan dinyatakan dalam satuan energi persatuan unit produk (kWh/kg, kCal/kg, kWh/m2, kCal/barrel, BTU/kWh atau yang lainnya).
Selanjutnya, metode benchmarking dapat dilakukan dengan membandingkan intensitas energi dengan intensitas fihak lain, untuk mengetahui seberapa baik pemanfaatan energinya. Oleh karena itu, yang dibandingkan adalah intensitas energi perusahaan dengan intensitas energi perusahaan lain yang sejenis.
Benchmarking sebagai metode analisis data
Menyusun tim auditor energi.
Dalam menyusun anggota tim auditor, harus mempertimbangkan latar belakang pendidikan dan pengalaman sesuai dengan tugas yang dilaksanakan. biasanya, tim auditor terdiri dari 3 – 6 orang tergantung ruang lingkup, ukuran dan jumlah unit yang diaudit. Anggota tim harus mempunyai pengalaman yang cukup di bidangnya masing-masing dan memiliki Setifikat Profesi Auditor Energi Industri.
Beberapa kegiatan dalam tahapan persiapan audit energi di atas sangat bermanfaat dalam kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan audit energi. Semakin sering dan banyak melakukan audit energi, tentunya akan meningkatkan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki auditor. Keahlian yang dimiliki juga dapat ditingkatkan dengan mengikuti training auditor energi, dimana praktek audit energi juga dilakukan selama training berlangsung.
