Bagian ini merupakan modul ketiga dalam training untuk sertifikasi auditor energi. Sesuai dengan SKKNI auditor energi, kompetensi inti seorang auditor adalah melakukan analisis data survei lapangan.

Dalam kegiatan audit energi, analisis data dilakukan untuk mendapatkan kinerja pemanfaatan energi dan langkah-langkah yang diperlukan untuk peningkatan efisiensi energi. Output yang diperoleh dari tahapan analisis data adalah antara lain;
- Pola dan performance penggunaan energi
- Pengelolaan energi atau sistem manajemen energi
- Performance sistem dan peralatan pengguna energi
- Jenis dan jumlah energy losses yang ada
- Potensi penghematan energi beserta kelayakan teknis dan ekonomisnya
- Manfaat jika sistem manajemen energi dan peluang penghematan energi diimplementasikan
- Membuat rekomendasi dan langkah tindak lanjut.
ANALISIS DATA SURVEY (Training dan Sertifikasi Auditor Energi)
Tiga keterampilan yang dibutuhkan dalam melakukan tugas dan fungsi analisis data lapangan, bagaimana disebutkan dalam SKKNI auditor energi adalah melakukan analisis penerapan sistem manajemen energi, melakukan analisis data primer dan sekunder, serta melakukan analisis peluang pengamatan.
Dalam kegiatan audit energi, analisa penerapan manajemen energi secara umum juga diperlukan. Yaitu untuk mengetahui sejauh mana perusahaan berkomitmen dan mampu mengimplementasikan rekomendasi yang akan didapat setelah pekerjaan audit energi selesai. Sebagaimana diketahui besama bahwa, sistem manajemen energi menyediakan kerangka struktural dan organisasional untuk perbaikan berkelanjutan. Agar perbaikan kinerja energi dapat berlangsung sepanjang waktu dan tidak tergantung pada perubahan personil.
Sebagai pedoman dapat digunakan buku Pedoman Teknis Audit Energi tahun 2011 yang dikelurkan oleh Kementrian Perindustrian. Tepatnya oleh Pusat Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup, dimana kegiatan analisis data dalam rangka pelaksanaan audit energi meliputi;
- Analisis sumber energi dan konsumsi energi pada peralatan pengguna energi
- Neraca massa dan neraca panas. Untuk menghitung seberapa besar utilitas penggunaan energi dan losses energi pada suatu sistem proses dan masing-masing peralatan pengguna energi. Losses energi ini kemudian dianalisa untuk dipertimbangkan berapa biaya (khusus yang bersifat medium dan high cost implementasi) yang harus dikeluarkan untuk mengkonversi losses tersebut menjadi potensi hemat energi
- Menganalisis atau inventarisasi konsumsi energi terhadap produk yang dihasilkan atau intensitas energi terhadap alur proses maupun peralatan pengguna energi. Ini digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi penggunaan energi
- Menganalisis performance dan efisiensi peralatan pengguna dan penghasil energi
- Menentukan benchmark intensitas energi
- Identifikasi potensi konservasi energi guna mengetahui tingkat efisiensi peralatan pengguna energi
- Menganalisis secara teknik dan ekonomi untuk mengetahui kelayakan potensi konservasi energi
- Rekomendasi langkah-langkah implementasi potensi / peluang konservasi energi disusun berdasarkan skala prioritas biaya implementasi (no cost / low cost, medium cos, dan high cost).
———-
Sertifikasi Auditor Energi
Persiapkan dengan baik, ikuti ecourse nya. Dapatkan pengalaman belajar dengan mudah kapan dan dimana saja. Klik daftar disini untuk akses 24 jam.
———-
Sebagai contoh, untuk mengetahui performa atau unjuk kerja pemanfatan energi pada suatu pembangkit listrik, parameter atau indikator unjuk kerja yang biasa digunakan adalah efisiensi, intensitas energi dan heat rate.
- Efisiensi adalah produksi listrik dibagi penggunaan energi pada durasi yang sama (satuan produksi listrik dan penggunaan energi harus sama), makin besar efisiensi unjuk kerja makin baik
- Intensitas energi adalah penggunaan energi (satuan kg, liter atau scf) pada satu unit pembangkit listrik dibagi produksi listrik (kWh) pada durasi yang sama, makin rendah intensitas energi unjuk kerja makin baik
- Heat rate adalah penggunaan energi (satuan kCal, kJ, BTU) pada satu unit pembangkit listrik dibagi produksi listrik (kWh) pada durasi yang sama, makin rendah heat rate unjuk kerja makin baik.
Setiap peralatan pemanfaat energi memiliki indikator performa energinya tersendiri. Bagaiamana cara menghitung performa energi disertai dengan contoh perhitungannya di ulas lebih detail di dalam pelatihan auditor energi. Seperti Gas Turbine Generator dan Waste Heat Recovery Boiler pada PLTGU, Steam Turbine Generator, Pompa, Kompressor, dan Chiller.




